Frenkie de Jong Geram atas Keputusan Offside Delapan Menit yang ‘Memalukan’ saat Barcelona Dibantai Atletico Madrid

Frenkie de Jong Geram atas Keputusan Offside Delapan Menit yang ‘Memalukan’ saat Barcelona Dibantai Atletico Madrid

Mansion SportsGelandang asal Belanda tersebut tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas jalannya pertandingan ketika Barcelona tersingkir dari Copa del Rey oleh Atletico Madrid asuhan Diego Simeone.

Malam Barcelona di ibu kota Spanyol berubah menjadi mimpi buruk ketika intervensi VAR yang kontroversial memperburuk situasi bagi tim asuhan Hansi Flick. 

Blaugrana, yang saat ini memuncaki klasemen La Liga, sudah tertekan akibat gempuran cepat Atletico Madrid pada babak pertama di Riyadh Air Metropolitano ketika Pau Cubarsi sempat mencetak gol yang memberi harapan. 

Namun, tinjauan VAR selama delapan menit yang melelahkan akhirnya menganulir gol tersebut, membuat para pemain dan staf Barcelona sangat marah terhadap kepemimpinan pertandingan.

Leg pertama semifinal Copa del Rey tersebut menjadi bencana total bagi tim tamu yang sudah tertinggal empat gol sebelum turun minum setelah penampilan yang jauh dari harapan.

Sementara tim Diego Simeone tampil dominan, sorotan utama selepas laga tertuju pada kegagalan teknologi offside semi-otomatis yang memaksa ofisial VAR menarik garis secara manual. Proses tersebut membuat pertandingan terhenti hampir sepuluh menit.

De Jong Sebut Keputusan Itu Skandal

Frenkie de Jong secara terbuka mengkritik keputusan tersebut saat berbicara kepada media. Ia mempertanyakan bagaimana teknologi yang dirancang untuk mempercepat permainan justru menyebabkan penundaan panjang dan membingungkan. 

De Jong menyatakan bahwa dalam gambar offside yang ditampilkan, tidak terlihat jelas momen kontak dengan bola saat Fermin melepaskan tembakan. 

Ia juga menambahkan bahwa kemudian muncul gambar lain yang menunjukkan bek berada sekitar satu meter di belakang Lewandowski. Menurutnya, situasi itu sangat janggal dan layak disebut sebagai skandal.

Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Eric Garcia yang mengalami malam sulit menghadapi mantan rivalnya. Bek Barcelona tersebut menjadi bagian dari lini pertahanan yang terus-menerus ditembus sepanjang pertandingan. 

Garcia menyebut penundaan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan dan mempertanyakan mengapa sistem semi-otomatis gagal berfungsi pada momen krusial, sehingga para pemain terombang-ambing dalam ketidakpastian saat mencoba bangkit.

Flick Kebingungan atas Minimnya Komunikasi

Hansi Flick, yang mungkin mengalami salah satu kekalahan paling memalukan dalam kariernya, juga melontarkan kritik tajam terhadap proses pengambilan keputusan. 

Pelatih asal Jerman itu terlihat berdiskusi dengan ofisial keempat di tepi lapangan terkait keputusan tersebut. 

Dalam konferensi pers setelah pertandingan, ia menyatakan bahwa menunggu selama tujuh menit untuk menyelesaikan situasi seperti itu terasa tidak masuk akal. Berdasarkan tayangan ulang yang ia lihat, menurutnya tidak terdapat pelanggaran offside.

Flick juga menyesalkan kurangnya komunikasi dari tim wasit selama jeda panjang tersebut. Di tengah kesulitan timnya menghadapi permainan agresif Atletico Madrid, ia merasa gol tersebut setidaknya bisa menjadi titik awal kebangkitan pada leg kedua. 

Namun, komite wasit kemudian mengakui bahwa sistem mengalami kesalahan pemodelan akibat kepadatan pemain di dalam kotak penalti, sehingga diperlukan intervensi manual yang tidak dapat diterima oleh pihak Barcelona.

Simeone Mengejek Yamal saat Barcelona Terpuruk

Ketika Barcelona meluapkan kekecewaan kepada wasit, Diego Simeone justru menikmati dominasi timnya. 

Pelatih asal Argentina itu tampak bersemangat di pinggir lapangan, terutama setelah Ademola Lookman mencetak gol ketiga. 

Dalam momen yang cepat menyebar di media sosial, Simeone terlihat mengangkat tiga jari ke arah wonderkid Barcelona, Lamine Yamal, untuk menegaskan keunggulan skor saat pemain muda tersebut melintas di dekat area teknis.

Situasi memalukan bagi Barcelona berlanjut ketika Julian Alvarez, yang sempat dikaitkan sebagai calon pengganti jangka panjang Robert Lewandowski, mencetak gol keempat sebelum jeda. 

Intensitas permainan Atletico terlalu tinggi bagi Barcelona yang tidak diperkuat Raphinha dan Gavi. 

Meski Simeone menyebut kemenangan itu sebagai kebahagiaan bagi publik, kontroversi VAR tetap menjadi catatan yang mengganggu ritme pertandingan.

Masa Depan Dipertanyakan di Tengah Kekacauan Metropolitano

Dampak kekalahan ini tidak hanya berhenti pada hasil akhir, karena Robert Lewandowski kini menghadapi fase penting dalam kariernya. 

Penyerang asal Polandia itu berada di pusat kontroversi offside tersebut, sementara kontraknya yang mendekati akhir membuat sejumlah klub, termasuk Atletico Madrid, dikabarkan tertarik merekrutnya. 

Disebutkan bahwa Lewandowski menunggu hasil pemilihan presiden klub pada Maret sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Kini Flick dan para pemainnya harus segera bangkit sebelum leg kedua di Camp Nou pada 4 Maret. Eric Garcia dipastikan absen setelah menerima kartu merah di akhir pertandingan, sementara dampak psikologis dari kontroversi VAR masih terasa kuat. 

Tugas membalikkan keadaan menjadi semakin berat. Barcelona mungkin masih memimpin klasemen La Liga, tetapi malam di Madrid itu membuktikan bahwa ketika teknologi gagal dan pertahanan runtuh, bahkan tim teratas pun dapat terjatuh dengan keras.

Related News

Frenkie de Jong Geram atas Keputusan Offside Delapan Menit yang ‘Memalukan’ saat Barcelona Dibantai Atletico Madrid

Frenkie de Jong Geram atas Keputusan Offside Delapan Menit yang ‘Memalukan’ saat Barcelona Dibantai Atletico Madrid

Mansion SportsGelandang asal Belanda tersebut tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas jalannya pertandingan ketika Barcelona tersingkir dari Copa del Rey oleh Atletico Madrid asuhan Diego Simeone.

Malam Barcelona di ibu kota Spanyol berubah menjadi mimpi buruk ketika intervensi VAR yang kontroversial memperburuk situasi bagi tim asuhan Hansi Flick. 

Blaugrana, yang saat ini memuncaki klasemen La Liga, sudah tertekan akibat gempuran cepat Atletico Madrid pada babak pertama di Riyadh Air Metropolitano ketika Pau Cubarsi sempat mencetak gol yang memberi harapan. 

Namun, tinjauan VAR selama delapan menit yang melelahkan akhirnya menganulir gol tersebut, membuat para pemain dan staf Barcelona sangat marah terhadap kepemimpinan pertandingan.

Leg pertama semifinal Copa del Rey tersebut menjadi bencana total bagi tim tamu yang sudah tertinggal empat gol sebelum turun minum setelah penampilan yang jauh dari harapan.

Sementara tim Diego Simeone tampil dominan, sorotan utama selepas laga tertuju pada kegagalan teknologi offside semi-otomatis yang memaksa ofisial VAR menarik garis secara manual. Proses tersebut membuat pertandingan terhenti hampir sepuluh menit.

De Jong Sebut Keputusan Itu Skandal

Frenkie de Jong secara terbuka mengkritik keputusan tersebut saat berbicara kepada media. Ia mempertanyakan bagaimana teknologi yang dirancang untuk mempercepat permainan justru menyebabkan penundaan panjang dan membingungkan. 

De Jong menyatakan bahwa dalam gambar offside yang ditampilkan, tidak terlihat jelas momen kontak dengan bola saat Fermin melepaskan tembakan. 

Ia juga menambahkan bahwa kemudian muncul gambar lain yang menunjukkan bek berada sekitar satu meter di belakang Lewandowski. Menurutnya, situasi itu sangat janggal dan layak disebut sebagai skandal.

Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Eric Garcia yang mengalami malam sulit menghadapi mantan rivalnya. Bek Barcelona tersebut menjadi bagian dari lini pertahanan yang terus-menerus ditembus sepanjang pertandingan. 

Garcia menyebut penundaan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan dan mempertanyakan mengapa sistem semi-otomatis gagal berfungsi pada momen krusial, sehingga para pemain terombang-ambing dalam ketidakpastian saat mencoba bangkit.

Flick Kebingungan atas Minimnya Komunikasi

Hansi Flick, yang mungkin mengalami salah satu kekalahan paling memalukan dalam kariernya, juga melontarkan kritik tajam terhadap proses pengambilan keputusan. 

Pelatih asal Jerman itu terlihat berdiskusi dengan ofisial keempat di tepi lapangan terkait keputusan tersebut. 

Dalam konferensi pers setelah pertandingan, ia menyatakan bahwa menunggu selama tujuh menit untuk menyelesaikan situasi seperti itu terasa tidak masuk akal. Berdasarkan tayangan ulang yang ia lihat, menurutnya tidak terdapat pelanggaran offside.

Flick juga menyesalkan kurangnya komunikasi dari tim wasit selama jeda panjang tersebut. Di tengah kesulitan timnya menghadapi permainan agresif Atletico Madrid, ia merasa gol tersebut setidaknya bisa menjadi titik awal kebangkitan pada leg kedua. 

Namun, komite wasit kemudian mengakui bahwa sistem mengalami kesalahan pemodelan akibat kepadatan pemain di dalam kotak penalti, sehingga diperlukan intervensi manual yang tidak dapat diterima oleh pihak Barcelona.

Simeone Mengejek Yamal saat Barcelona Terpuruk

Ketika Barcelona meluapkan kekecewaan kepada wasit, Diego Simeone justru menikmati dominasi timnya. 

Pelatih asal Argentina itu tampak bersemangat di pinggir lapangan, terutama setelah Ademola Lookman mencetak gol ketiga. 

Dalam momen yang cepat menyebar di media sosial, Simeone terlihat mengangkat tiga jari ke arah wonderkid Barcelona, Lamine Yamal, untuk menegaskan keunggulan skor saat pemain muda tersebut melintas di dekat area teknis.

Situasi memalukan bagi Barcelona berlanjut ketika Julian Alvarez, yang sempat dikaitkan sebagai calon pengganti jangka panjang Robert Lewandowski, mencetak gol keempat sebelum jeda. 

Intensitas permainan Atletico terlalu tinggi bagi Barcelona yang tidak diperkuat Raphinha dan Gavi. 

Meski Simeone menyebut kemenangan itu sebagai kebahagiaan bagi publik, kontroversi VAR tetap menjadi catatan yang mengganggu ritme pertandingan.

Masa Depan Dipertanyakan di Tengah Kekacauan Metropolitano

Dampak kekalahan ini tidak hanya berhenti pada hasil akhir, karena Robert Lewandowski kini menghadapi fase penting dalam kariernya. 

Penyerang asal Polandia itu berada di pusat kontroversi offside tersebut, sementara kontraknya yang mendekati akhir membuat sejumlah klub, termasuk Atletico Madrid, dikabarkan tertarik merekrutnya. 

Disebutkan bahwa Lewandowski menunggu hasil pemilihan presiden klub pada Maret sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Kini Flick dan para pemainnya harus segera bangkit sebelum leg kedua di Camp Nou pada 4 Maret. Eric Garcia dipastikan absen setelah menerima kartu merah di akhir pertandingan, sementara dampak psikologis dari kontroversi VAR masih terasa kuat. 

Tugas membalikkan keadaan menjadi semakin berat. Barcelona mungkin masih memimpin klasemen La Liga, tetapi malam di Madrid itu membuktikan bahwa ketika teknologi gagal dan pertahanan runtuh, bahkan tim teratas pun dapat terjatuh dengan keras.

Related News